PERASAAN

9:16 06/01/2007

                                         PERASAAN

Perasaan,tempatnya berjejalan dengan yang namanya LOGIKA,di dalam otak kita-secara biologis. Dia sangat bergantung pada hormon2 dalam aliran darah kita… adrenalin. Baik yang menghasilkan suatu reaksi kelenjaris,otot,atau yang bersifat maya/halusinasi.
Peran perasaan dalam kehidupan kita sangatlah kritis/penting. Bahkan seringkali logika kita tersingkirkan demi yang namanya sebuah perasaan.
Apa sebenarnya sih perasaan itu ? Dan apa gunanya bagi kehidupan manusia ?
Mari kita telusuri dia…..

Suatu hari Maya,16 tahun,merasa sedih dan menangis untuk ke sekian kalinya,ketika dia berada di satu tempat dimana dia diputuskan hubungannya oleh kekasihnya ( sebut saja Anton,19tahun.). Tempat itu bagi orang lain yang melihatnya akan mengatakan indah…disitu ada aliran air yang bening dari sebuah air terjun. Udara sejuknya akan membuat orang merasa betah,juga hijau pepohonannya….hmmm.
Kenapa Maya merasa sedih dan menangis lagi ?
Sebab Maya datang kesana dengan berbekal ingatan "buruk"nya,sedangkan bagi orang lainnya,mereka datang dengan berbekal harapan "sejuk"nya.
BURUK nya Maya : di tempat itu Maya putus hubungan dengan Anton.
Coba kita akan analisa "buruk"nya Maya.
Apakah TEPAT kita sebut buruk,atas terjadinya satu kenyataan putusnya satu hubungan ?
Jawabnya, YA BURUK,bila kita melihat dari sisi EGO kita. Kepentingan/ego,atau kesenangan dan KENIKMATAN atas berlangsungnya "hubungan" itu. Biasanya karena berhubungan dengan Anton,Maya akan bisa diajak jalan2 dengan semua fasilitas Anton,seperti mobil atau uang saku yang cukup. Kemana aja Maya ingin pergi, Anton akan mengantar dan menemaninya dengan "senang hati" pula. Sekarang setelah putus dengan Anton,bila Maya harus ke perpus terpaksa naik angkot yang panas tak ber-ac. Yang dulu bisa nongkrong di tepi pantai dengan duduk manis di mobil sambil makan cemilan,ngobrol,memacu getaran asmara,tanpa terusik langsung oleh mata orang2 di sekitarnya ( sebab kaca-film hitam kelam mobil Anton menyamarkannya ). Kini semua tiada…dan buat Maya hal ini jelas menyedihkannya,dengan kata yang lebih tepat : MERUGIKANNYA.
Belum lagi kalau diajak gabung dengan teman-teminnya…sekarang Maya jadi merasa JOMBLO BGD. Maya "terusik" dengan status seperti ini:jomblo bgd !
Maya jadi ga PD,gabung dan jalan dengan teman-teminnya,karena Maya hanya sendirian,sementara yang lainnya bisa berduaan ke pojok sana dan ke pojok situ….Hey,dulu ada yang bilang "cuma jadi NYAMUK…."
…..
Kesedihan ini tak perlu Maya alami,andai saja SUDUT PANDANG Maya lebih BIJAK,yaitu mau melihat sisi-baiknya selalu dari segala sesuatu yang terjadi dan TERASA menohok EGOnya. Mestinya lebih baik jika Maya menggunakan momen putus-hubungannya ini sebagai media introspeksiannya.
Daripada menangis hanya MEMACU adrenalin-masosisnya,atau menikmati kenikmatan dengan menangis dan mengasihani-diri ( pity )…maka lebih baik Maya memacu semangatnya untuk mencari tahu,PERBEDAAN ( saya tidak mau mengatakan kejadian penyebabnya ini sebagai satu KESALAHAN )
yang membuat Anton memilih putus.
1.Apakah KARENA Anton BOSAN dan sudah punya "gebetan" lain?
Bila benar Anton memilih putus karena dia punya pilihan lain atau pindah ke lain hati,seharusnya Maya BERTERIMAKASIH kepada Anton,atas kejujurannya untuk tidak berbohong atau bahkan menduakan Maya.
Berterimakasih ? Dapatkah kamu mengerti kenapa Maya malah harus berterimakasih ? Menurutmu,apakah akan jadi baik,andai di salah-satu pihak  ( disini Anton) sudah merasa bosan tetapi hubungan masih akan terus dilanjutkan ? Apakah salah bila seseorang merasa bosan ?
Bosan,adalah hak asazi individualis. Dalam berhubungan sepanjang masih BERPACARAN,tak ada komitmen atau hukum/janji yang MENGIKAT,kecuali dalam perkawinan !!
( Nanti akan kita bahas tersendiri-bosan-dalam konteks PERKAWINAN )
Jadi adalah baik,bila Anton memilih putus…daripada tetap berhubungan tapi
Anton akan memulai membuka diri kepada kebohongan terhadap Maya. Entah karena sekedar rasa IBA atau apapun! Sedangkan di pihak Maya,ini adalah kenyataan yang harus diterima dengan kepala dingin,agar Maya mampu menganalisa keadaan dengan teliti. Dan tak berlarut dalam "kesedihan". Tetapi justru bangkit,untuk menjadi jauh lebih PAHAM atas kenyataan diri,keinginan diri sendiri,dengan introspeksi,bertukar pikiran dengan orang yang lebih dewasa. Bukan dengan teman sebayaan yang juga masih memiliki pengetahuan dan mentaliti yang seimbang dengan dirinya. Bila ini terjadi maka akan terjadi PEMBOROSAN waktu dan energi semata,bahkan bukan tak mungkin menjadi larut-terlarut dalam kesedihan tak berujung.
Disinilah peranan orangtua atau kakak,saudara. Tetapi,memang pada kenyataan yang ada,peranan orangtua/kakak/saudara,masih hanya SEDIKIT orang yang memilikinya. ( dengan alasan kondisi ekonomi/atau kesibukan kerja para dewasanya)
Jadi jalan keluarnya kemana ? Ya,ke konsuler…tapi di negeri kita…apakah hal berkonsultasi itu sudah menjadi tradisi ? Dan andai ada berapa biaya yang harus dirogoh demi menemani  para beliaan ini ? Belum lagi KONOTASI dari pergi ke psikolog adalah "negatip"…dengan kata lain "malu2in aja"..ini jadi PENGHAMBAT yang signifikan kan??
                                         #TO BE CONTINUED#

Leave a Reply